HinduNet
  
Forums Chat Annouce Calender Remote

AWATARA

 

 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Engkau dan Aku sudah dilahirkan berulang kali. Aku dapat ingat semua kelahiran itu, engkau tidak dapat ingat, wahai penakluk musuh. Walaupun Aku penguasa semua makhluk hidup, Aku masih menjelma pada setiap zaman dalam bentuk rohaniKu yang asli. (4.5-6) Sepuluh avatara (penjelmaan) Krsna digambarkan (dari kiri atas, lawan arah jarum jam): Matsya (Sang Ikan, Kurma (Sang Kura-kura), Varaha (Sang Babi Hutan), Narasimha (Setengah Singa, Setengah Manusia), Vamadeva (Sang Anak Brahmana), Parasurama (Sang Kesatria), Rama, Baladeva (Kakak Krsna) Buddha dan Kalki (Sang Pangeran).

(BHAGAVAD-GITA)

 

Taken From : UPADEÇA

 

Jadi Awatara itu adalah perwujudan Sang Hyang Widhi kedunia dengan mengambil suatu bentuk yang dengan perbuatan atau ajaran2 sucinya, memberi tuntunan untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan yang diakibatkan oleh kegelapan awidya. Didalam Bhagawadgita (II. 7) disebut "Kapan saja Dharma (kebenaran) mulai runtuh dan Adharma (kejahatan) mulai merajalela, Aku menjelma kembali kedunia untuk menegakkan Dharma (kebenaran)". Jadi bila dunia dalam penderitaan dan dikuasai oleh Adharma maka Sang Hyang Widhi turun kedunia untuk menegakkan Dharma. Dan dalam Purana ada disebut-10 Awatara dari Wisnu antara lain Sri Rama, Sri Krsna, Budha dan Kalki (Awatara Wisnu yang belum datang). Semua Awatara ini bertugas untuk membikin umat manusia menegakkan jiwa kedewataan sebagai sifat2 yang luhur dan memberantas sifat2 keraksasaan (keangkuhan, keangkaraan dll.) dengan ajaran-ajaran sucinya yang menuntun kearah kedamaian dan kesempurnaan hidup. Umpamanya, Sri Rama tidak lain dari perwujudan Sang Hyang Widhi (Wisnu) didunia ini sebagai Putra Raja Dasaratha untuk menghancurkan kejahatan (Adharma) yang ditimbulkan para raksasa, rakyat dari Rawana.

 Hal ini dapat kita pelajari dari Wiracarita Ramayana dimana diceritakan bahwa setelah para Raksasa itu dihancurkan Sri Rama langsung menyerahkan pimpinan kenegaraan kepada Wibisana adik Rawana sehingga rakyatnya dapat melaksanakan yadnya dan melakukan ajaran2 Agama dari pustaka sucinya lagi. Demikian juga Awatara Sri Krsna yaitu salah satu perwujudan Sang Hyang Widhi (Wisnu) kedunia yang bersifat sempurna untuk menegakkan dharma, karena dunia pada waktu itu ada dalam keadaan Adharma dimana sifat2 keraksasaan merajalela mengacau dan menggoncangkan ketentraman dan peradaban umat manusia. Ini digambarkan dalam Wiracarita Mahabharata dimana Duryodana, Kansa, Sisupala, Jarasanda, dll.nya merupakan jiwa2 keraksasaan yang hendak meruntuhkan Dharma. Dan Awatara yang terakhir dijaman ini adalah Sang Budha yaitu perwujudan Sang Hyang Widhi (Wisnu) yang lahir sebagai Putra Raja Kapilawastu, turun kedunia untuk menegakkan Dharma dari kegoncangan2 dunia. Dan kita masih menunggu kedatangan Awatara baru yang dalam agama kita diberi gelar Kalki.

Sang Suyasa :

Gurunda, sungguh bahagia rasa hati hamba mendapat penjelasan-penjelasan tadi. Tetapi ijinkanlah hamba melanjutkan pertanyaan-pertanyaan agar betul-betul lengkap pengetahuan hamba prihal agama kita.

Tadi Gurunda menyebutkan nama Rsi-Rsi. Sudikah Gurunda menerangkan siapa Rsi-Rsi kita?

 

 

Taken From : Buku Pelajaran Agama Hindu

  1. Pengertian Awatara
  2. Untuk menegakkan dharma (kebenaran) dari tantangan adharma (ketidak benaran), Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat maha pengasih dan penyayang turun ke dunia dengan perwujudan tertentu untuk menyelamatkan umat manusia dari cengkraman bahaya. Perwujudan Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa ke dunia untuk membasmi kejahatan serta membangkitkan kebenaran disebut Awatara.

    Kitab Bhagawad Gita menyebutkan sebagai berikut :

    Yada-yada hi dharmasya

    Glanir bhawati bharata,

    Abhyutthanam adharmasya

    Tada 'tmanan srijamy aham.

    Artinya :

    Manakala dharma hendak sirna,

    Dan adharma hendak merajalela

    Saat itu, wahai keturunan bharata

    Aku sendiri turun menjelma.

    (Bhagawad Gita. IV.7)

     

    Perkataan dharma berarti kebenaran spiritual dan adharma berarti ketidak benaran atau dosa, sedangkan kata Awatara dalam kamus kecil Sansekerta-Indonesia, diartikan turun atau inkarnasi. Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa, yang dimaksud dengan Awatara adalah perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa turun ke dunia dengan menyerupai salah satu bentuk yang sesuai dengan keadaan alam, untuk menuntun dan membebaskan umat manusia dari pengaruh dan tindakan yang diakibatkan oleh kegelapan/kejahatan (awidya).

     

  3. Awatara sebagai perwujudan Tuhan
  4. Awatara berarti perwujudan Tuhan turun ke dunia sebagai akibat dari sifat maha kasihnya yang tak terbatas, tuhan sering kali mengutus utusannya turun ke dunia untuk menolong umat manusia, agar terhindar dari bencana pralaya/kiamat. Apabila dunia diancam oleh mala petaka, maka Tuhan mengutus seseorang yang telah mencapai tingkatan moksa turun kedunia.

    Kitab Bhagawad Gita menyebutkan sebagai berikut :

    Ajo 'pi san avyayatma

    Bhutanam isvaro 'pi san,

    Prakritim svam adhishthaya

    Sambhavamy atmamayaya.

    Artinya :

    Walaupun Aku tak terlahirkan, tak termusnahkan dan Aku adalah pencipta makhluk hidup segala, namun atas penguasaan sifat-Ku Aku menjelma.

    (Bhagawad Gita IV.6)

    Inkarnasi Tuhan sebagai penolong disebut Awatar, dan dalam tugasnya sebagai penolong beliau disebut Bhatara. Tuhan Yang Maha Esa mempunyai fungsi sebagai Pencipta (Brahma), sebagai pemelihara (Wisnu) dan sebagai pelebur (Siwa). Dalam fungsinya sebagai pemelihara, Tuhan berulang kali turun ke dunia sebagai Awatara untuk menyelamatkan umat manusia dari bencana kehancuran.

    Dengan kekuatan maya-Nya, Tuhan menjelma ke dunia dengan wujud yang dikehendaki-Nya seperti : Matsya, Kurma, Varaha, Narasimbha, Parasurama, Wamana, Rama, Krisna, Budha dan Kalki.

     

  5. Sepuluh Awatara dan tugas-tugasnya

Di dunia Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, memberikan karunia kepada seseorang yang berbuat baik dan menghukum seseorang yang berbuat kejahatan dengan hukum karmanya. Tuhan memiliki kuasa untuk memalingkan yang jahat ke jalan kebaikan dan mengampuni orang yang telah bertobat. Untuk memalingkan yang sesat ke jalan yang benar maka Tuhan turun ke dunia dengan perwujudan-Nya serta mengajarkan kebenaran tertinggi yang menjadi tujuan hidup manusia.

Hal ini sesuai dengan ucapan sloka kitab Bhagawad Gita sebagai berikut :

Par itranaya sadhunam

Vinasaya cha dushkrtitam,

Dharma samsthapanarthaya

Sambhavami yuge-yuge.

Artinya :

Demi untuk melindungi kebajikan

Demi untuk memusnahkan kelaliman

Dan demi untuk menegakkan dharma

Aku lahir ke dunia dari masa ke masa.

 

Berdasarkan ucapan sloka tersebut di atas, Awatara perwujudannya di dunia memiliki fungsi-fungsi/tugas sebagai pelindung yang disebut Bhatara, sebagai penerima dan penyebar wahyu Tuhan disebut Bhagawan/Rsi. Diyakini ada sepuluh perwujudan Tuhan (Awatara) yang turun ke dunia dan berfungsi/bertugas sebagai penyelamat antara lain :

1. Matsya Awatara

Matsya Awatara adalah penjelmaan Tuhan (Wisnu) sebagai/berwujud ikan. Matsya artinya ikan. Pada permulaan penciptaan ini, alam semesta ini penuh dihuni oleh makhluk jenis air. Duni ini diluapi oleh air. Pada waktu itu manusia seperti ikan. Dalam keadaan dunia seperti itulah Wisnu menyelamatkan benih-benih makhluk manusia pertama dengan menjelmakan diri-Nya sebagai ikan. Dengan demikian Ia dapat menyelamatkan benih manusia yang pertama itu.

Di dalam Matsya Purana diceritakan bagaimana timbulnya ikan besar itu. Kejadian itu pada masa Manu Waiwasta. Manu Waiwasta, keturunan surya wangsa. Beliau melakukan tapa untuk memohon kekuatan kepada Tuhan.

Oleh karena kekuatan tapanya dan ketekunannya, Tuhan telah memperlihatkan dirinya dalam wujud dewa Brahma. Manu mengatakan kepada Dewa Brahma bahwa kelak dunia ini akan musnah karena kiamat. Kiamat ini disebut Maha Pralaya. Untuk menyelamatkan ciptaan itu dari akibat kiamat, Manu memohon kekuatan yang cukup untuk melindungi ciptaan Tuhan itu. Dewa Brahma sangat puas mendengar permohonan itu dan merestuinya. Segala permohonan itu engkau peroleh.

Demikianlah penjelasan Dewa Brahma lalu menghilang dari pandangan. Oleh karena para dewa sangat senang mendengar rahmat itu maka Dewa-dewa menghujaninya dengan hujan bunga, sebagai tanda ikut berbahagia.

Sekembalinya di asrama, Manu melakukan upacara keagamaan sebagaimana biasanya dilakukan setiap harinya. Pada suatu hari pada waktu menuang air pencuci, tiba-tiba seekor ikan kecil meloncat dari air itu dan jatuh. Manu mengambilnya dan memasukannya ke dalam tempayan itu. Dalam sehari ikan itu telah menjadi besar hampir memenuhi tempayan itu. Manu sangat berat dan memindahkannya ke dalam kolamnya yang lebih besar. Dalam dua tiga hari saja ikan itu menjadi besar hampir memenuhi kolamnya. Demikianlah terusmenerus, sampai ikan itu diletakkan di sungai gangga dan akhirnya sampai ke samudra.

Mula-mula Manu ragu dan bertanya pada ikan itu. Ikan, apakah engkau ini Iswara atau Asura? Apakah engkau ini Wasudewa? Siapa lagi kalau tidak demikian yang mempunyai kekuatan luar biasa. Engkau telah menjadi demikian besar sampai telah melebihi 1600Km besarmu. Oleh karena Manu menyebut namanya dengan Wasudewa yang juga gelar kesayangan Dewa Wisnu akhirnya Dewa Wisnu memperlihatkan dirinya karena merasa senang. Wisnu memberikan keterangan kepada Manu bahwa dewa-dewa telah menyiapkan kapal ini dan saya ditugaskan untuk menyelamatkan itu. Demikianlah asal mula timbulnya Matsya Awatara, diceritrakan di dalam kitab Matsya Purana.

Ceritra tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut : Matsya Awatara adalah perwujudan Tuhan yang turun ke dunia berupa ikan besar, yang bertugas untuk menolong/menyelamatkan Manu sebagai penerus generasi manusia yang baik.

 2. Kurma Awatara

Di dalam kitab Purana, Mahabharata, Ramayana dan Padma Purana disebutkan pula Wisnu memperlihatkan diri-Nya sebagai seekor Kurma besar atau manu Kurma. Kejadian ini terjadi pada saat para dewa-dewa hendak mencari tirta amertha, yaitu dengan mengadakan pemutaran gunung Mandara.

Sebagai akibat pemutaran gunung Mandara itu maka terjadi pasang naik dan menyebabkan makin tenggelamnya permukaan bumi. Dalam cerita itu dikemukakan karena bumi tidak dapat menopang perputaran gunung mandara. Dewa-dewa kemudian meminta bantuan kepada Dewa Wisnu agar dapat menyangga bumi. Wisnu membantunya dengan mengambil wujud sebagai Maha Kurma, dunia dapat tertopang sehingga tidak terbenam. Dengan demikian maka seisi alam itupun dapat diselamatkan dari akibat yang ditimbulkan oleh adanya pemutaran gunung Mandara.

Diceritakan bahwa di dalam pemutaran gunung Mandara, banyak harta karun yang dapat diperoleh yang sangat berguna, tidak saja bagi para Dewa-dewa tetapi juga bagi umat manusia. Menurut cerita yang dikemukakan sebagai akibat dari pemutaran itu makadiperolehnya Waruni, Laksmi, Soma Aspara, Ucchaisrawa, Sringga, Halahala dan Amrta.

Untuk memperingati kejadian itu sekarang telah dibangun bangunan Padmasana. Bangunan itu dibuat berdasarkan inspirasi pemutaran gunung Mandara.

Dalam cerita ini dapat kita simpulkan sebagai berikut : Maha Kurma adalah perwujudan Tuhan yang turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia beserta isinya sebagai akibat dari para Dewa memutar gunung Mandara untuk mencari tirtha amertha.

3. Waraha Awatara

Di dalam kitab Wisnu Purana, kitab Agni Purana, kitab Brahma Purana, kitab Wahyu Purana, Kitab Satapatha Brahman dan juga di dalam kitab Maha Bharata pernah pula diceritakan tentang adanya Wisnu memperlihatkan wujudnya sebagai Waraha.

Waraha artinya Babi Hutan atau Warak. Wisnu turun ke dunia sebagai Waraha adalah untuk menyelamatkan bumi ini yang pada waktu itu dilemparkan ke samudra oleh Raksasa yang amat sakti, Hiranyaksa namanya. Wisnu dalam wujudnya sebagai seekor Waraha menyelami samudra dan mengangkat bumi ini sehingga tersembul kembali ke permukaan laut seperti sebuah kapal yang mengapung.

Waraha Awatara adalah perwujudan Tuhan (Wisnu) yang berupa seekor babi hutan atau babi rusa yang besar bertugas untuk menyelamatkan bumi ini yang mau ditenggelamkan oleh raksasa Hiranyaksa.

4. Narasimbha Awatara

Narasimbha berarti manusia berkepala singa. Wisnu menjelma turun kedunia sebagai Narasimbha untuk membantu Prahlada dalam menumpas raja raksasa bernama Hiranyakasipu. Raksasa ini amat sakti setelah memperoleh anugrah kesaktian dari Siwa. Adapun kesaktian yang diperoleh berupa anugrah kehidupan yang tidak akan mati terbunuh baik diwaktu malam hari, maupun di waktu siang hari. Tidak akan dapat dibunuh oleh manusia, raksasa maupun para Dewa. Tidak akan dapat mati terbunuh dengan senjata. Sebagai akibat kesaktian yang diperoleh maka Hiranyakasipu bermaksud hendak menugasi seluruh dunia dan Indraloka.

Sebagai raja yang amat sakti dan amat ditakuti menyebabkan ia menjadi sombong. Namun Prahlada yang mempunyai keimanan yang kuat pada kebesaran Wisnu menyebabkan ia meminta bantuan kepada Dewa Wisnu. Dalam pertempuran inilah raksasa yang sangat ditakuti itu dapat dikalahkan oleh wisnu yang telah turun ke dunia dalam bentuk manusia singa pada waktu senja hari. Hiranyakasipu dapat dikalahkan sebagai manusia dan tidak pula menjelma sebagai binatang. Demikian pula ajal Hiranyakasipu ditangan Narasimbha karena ia turun memperlihatkan diri-Nya pada senja hari, tidak waktu siang dan tidak waktu malam. Dengan mempergunakan kekuatan kukunya yang tajam, Narasimha merobek-robek perut Hiranyakasipu. Hiranyakasipupun dibawa ke serambi dan menghabiskan nyawanya di atas pengkuan narasimbha. Semua ini dilakukan yang menyebabkan Hiranyakasipu akhirnya dapat dikalahkan.

Dengan jasa Narasimha itu maka kehidupan manusia mulai dapat dipulihkan kembali. Rakyat mendapat perlindungan dengan aman. Pemerintahan dijalankan oleh Prahlada dengan bijaksana.

5. Wamana Awatara

Menjelang masa Treta Yuga, dunia inipun mengalami kekalutan. Pada waktu itu, di dunia ini ada raksasa bergelar Bali. Melalui kekuatan tapanya ia berkeinginan untuk menguasai ketiga dunia ini.

Dewa-dewa hampir-hampir terusir dari daerah pemukimannya. Untuk mengatasi kesulitannya itu, para Dewa meminta bantuan Wisnu yang kemudian turun ke dunia sebagai seoarang pendeta yang cebol, yang merupakan putra dari Maha Rsi Kasyapa.

Pada suatu hari, Wamana datang kepada Bali dan meminta sebidang tanah seukuran dirinya, seluas tiga langkah saja. Melihat bentuk fisik yang cebol, Bali menyetujuinya. Dengan persetujuan itu maka wisnu sebagai Wamana melangkahkan tiga langkah kakinya sehingga ketiga wilayah Bali telah terkuasainya. Tiga langkah itu dikenal dengan istilah Tri Wikrama.

Yang dimaksud Wamana Awatara adalah perwujudan Tuhan (Wisnu) berupa orang cebol yang bertugas untuk menaklukan keangkaraan/kesombongan dari raksasa/Bali.

6. Parasurama Awatara

Parasurama atau rama Parasu adalah rama yang bersenjatakan kampak. Di dalam kitab Bhgawata Purana, Brahma Purana dan Matsya Purana disebutkan adanya Rama Parasu Awatara.

Rama Parasu di ceritakan telah memusnahkan keluarga Kesatria. Menurut Kitab Purana, Rama Parasu adalah putra Brahmana Bhriggu,. Beliau turun ke dunia sebagai titisan Wisnu untuk menegakkan revolusi kaum Ksatria sehingga menimbulkan perobahan sosial. Untuk menegakkan kembali berlakunya tertib hukum, Wisnu turun kedunia sebagai manusia, lahir dalam keluarga Bhagawan Jamadagni. Semasa kecilnya, Rama Parasu dilindungi ileh Dewa Siwa dan memberikan kepadanya sebuah kampak. Maka dari itu maka Rama terkenal karena senjata kampak itu.

Rama pArasu Awatara adalah perwujudan Tuhan (Wisnu) turun ke dunia berupa Rama, yang bertugas untuk menghukum orang-orang yang suka menghina, suka mencela, menghianati dan suka sombong/berbohong. Rama Parasu adalah utusan tuhan ke dunia untuk menegakkan keadilan hidup manusia.

7. Rama Awatara

Rama juga dikenal dengan gelar Rama Dewa atau Rama Candra. Perwujudan Tuhan (Wisnu) sebagai rama bertujuan untuk menundukkan Rawana yang dianggap akan berbahaya bagi kehidupan dunia manusia karena kesaktian yang dimiliki sekeonaran sifat-sifat yang apa adanya.

Rawana adalah raja keturunan raksasa, yang memerintah di Lengka Pura, sekarang dikenal dengan nama Sri Langka. Riwayat kehidupan Rama diceritakan dalam kitab Purana, antara lain kitab Padma Purana, Agni Purana, Brahma Purana dan Kurma Purana. Beliau lahir sebagai putra raja dari Ayodya.

Rama Awatara adalah perwujudan Tuhan(Wisnu) sebagai Rama. Rama dapat mengalahkan Rawana, seorang raja raksasa bersifat angkara murka, raja yang amat sombong dan merampas istri Rama yang bernama Sintha. Ajaran ini mengandung arti bahwa setiap orang harus mengendalikan hawa nafsunya.

8. Krsna Awatara

Krsna Awatara terjadi menjelang pada jaman Dwapara Yuga. Tentang Awatara Krsna terutama diuraikan di dalam kitab Bhagawata Purana, Agni Purana, Wisnu Purana dan Brahma Purana.

Krsna turun ke dunia sebagai titisan Wisnu, dengan maksud untuk menumpas raja Kamsa. Krsna lahir sebagai putra Dewaki. Dewaki adalah saudara perempuan raja Kamsa. Menurut ramalan Maha Rsi Narada, dikatakan bahwa kelak Kamsa akan mati dibunuh oleh putra kedelapan dwi Dewaki. Oleh karena itu Kamsa membunuh setiap kali lahir anak dewi Dewaki. Krsna selamat karena pada waktu dilahirkan, anak itu digantikan dengan bayi lain, baru kemudian diketahui oleh Kamsa bahwa Krsna lahir tetapi telah selamat.

Krsna dibawa dan dipelihara oleh keluarga petani miskin sampai dewasa. Krsna mengalahkan Kamsa. Kamsa berusaha membunuh Krsna berkali-kali tetapi selalu gagal. Akhirnya Krsna menetap di Dwaraka.

Krsna Awatara adalah perwujudan Tuhan (Wisnu) sebagai Krsna, yang bertugas untuk membantu keluarga Pandawa membasmi Kurawa, yang pada hakekatnya membasmi angkara murka. Krsna memilih tugasnya sebagai kusir kereta perang Arjuna, seorang ksatria yang merupakan perlambang tri warga (Dharma, artha, kama).

9. Budha Awatara

Pada jaman Kali Yoga. Wisnu dikatakan turun ke dunia. Kali ini ia bertugas untuk memperbaiki cara pandangan agama yang keliru. Wisnu turun sebagai Budha.

Budha dilahirkan dalam keluarga raja Sudodana dengan gelar Sidharta. Menurut tradisi Hindu, Budha Awatara diceritakan di dalam kitab Matsya Purana, Agni Purana, Bhawisya Purana dan Bhagawata Purana.

Budha Awatara adlah penjelmaan Tuhan(Wisnu) sebagai Budha yang bertugas mengembalikan agama ke jalan yang luhur seperti semula. Jadi Budha bukanlah pengajar agama baru, melainkan hanya merupakan pelurus dan penjurus pelaksanaan agama ke jalan semua sesuai dengan wahyu Tuhan Yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi Wasa.

10. Kalki Awatara

Didalam kitab Kalki Purana dikemukakan bahwa kelak Tuhan(Wisnu) akan turun kembali ke dunia. Penjelmaan Wisnu yang akan datang adalah sebagai kalki.

Ramalan tentang akan turunnya Wisnu pada masa yang akan datang diungkapkan pula di dalam kitab-kitab Mahabharata, Bhagawata Purana, Lingga purana, Waraha Purana, Agni Purana, dan Bhawisya Purana.

Berdasarkan ramalan itu kejadian ini akan terjadi pada saat terjadi pralaya. Beliau turun dan berkuda putih dengan senjata pedang terhunusnya. Sinar cahaya pedang yang dibawa kemilau laksana petir. Beliau kemudian akan membangun dunia ini kembali dari kehancuran.

Kalki Awtara adalah perwujudan Tuhan (Wisnu) turun ke dunia sebagai Kalki, yang bertugas untuk memusnahkan kejahatan apabila nanti dunia ini digoncangkannya. Kalki Awatara adalah awatara yang akan datang.. Apabila nati dunia ini digoncangkan oleh kejahatan, maka Tuhan(Wisnu) akan turun kembali ke dunia ini untuk menolong umat manusia.

Renungan :

Kehadiran orang suci dan awatara menurut keyakinan dan kepercayaan umat Hindu adalah merupakan kekuasaan Tuhan yang Maha Esa/Sang Hyang Widhi Wasa. Tidak dapat kita bayangkan bahwa apa yang akan terjadi dalam pelestarian agama Hindu secara utuh, tanpa kehadiran beliau itu.

Dalam keadaan tetap seperti ini, dapatkah kita mengikuti usaha-usaha yang telah dilaksanakan oleh beliau0beliau tersebut di atas (orang suci dan awatara)?

Masalah dan akibat apakah yang akan dialami oleh umat Hindu tanpa ada anugrah Tuhan dan peranan aktif dari orang-orang suci dan awatara tersebut?

Marilah kita laksanakan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai umat Hindu, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak mendukung pelestarian agama Hindu.

 

Cari:

Masukkan Kata...

Logo Milik Amazon.com

 

<BACK>

 

Advertise with us!
This site is part of Dharma Universe LLC websites.
Copyrighted 2009-2014, Dharma Universe.